Tampilkan postingan dengan label cerpen sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen sedih. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Agustus 2017
Sepertiga Senja
"Berhenti untuk terus mengusikku, Nada!" Cecar seorang pria yang masih terpaku menatap sang jingga.
"Kau pikir, menyatukan kembali kepingan hati yang hancur itu semudah kau mengatakan 'maaf'?" Lanjutnya.
Sang jingga merayap perlahan. Mengadu lelahnya pada sang bulan. Menyerahkan sesaknya senja itu pada langit malam yang temaram.
"Kau tahu, setelah kepergianmu berapa lama aku harus menyusun hidupku kembali? Apa kau tahu betapa tersiksanya aku di setiap senja aku hanya menemukan serpihan kisah masa lalu tentangmu?! Apa kau tahu betapa bencinya aku yang harus berusaha melupakanmu di sepertiga senja?!"
Embun itu pecah. Menjadi bulir-bulir bening yang merembet dari sudut mata laki-laki bernama Angga. Sang jingga semakin meredup. Cahayanya berpadu dengan kelabu yang menyisakan sebuah silued kenangan tabu. Kenangan manis yang terasa begitu menyakitkan.
"Pergi, Nada! Jangan terus mengganggu kehidupanku! Jangan terus mengusikku dengan kata maafmu!" Untuk kesekian kalinya, Angga menangis dalam pelukan senjanya.
Senjanya yang terus berharap untuk kembali. Meski kini senja itu sudah mati.
Label:
cerpen sedih,
contoh fiksi mini,
fiksimini,
kumpulan cerita cerpen sedih,
kumpulan cerita patah hati,
kumpulan cerpen,
sad story,
sepertiga senja,
wattpad
Kamis, 25 Agustus 2016
Kehormatan Cinta
Namanya Rani. Wanita berusia 25 tahun yang bekerja sebagai karyawati di perusahaan swasta. Rani adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga. Ia hanya memiliki seorang kakak laki-laki bernama Hadad.
Rani adalah wanita yang ramah, dan elok budi pekertinya. Namun sayang, kisah percintaannya tak seelok dirinya. Rani baru dua minggu menyandang status istri dari Tubagus Hendro Pranoto. Salah satu CEO restaurant terbesar di Jakarta. Sayangny, ia harus menelan pil pahit perceraian yang digugat oleh Bagus sendiri.
Terdengar kabar bahwa sesungguhnya Rani bukanlah seorang perawan ketika menikah dengan Bagus. Ya, perawannya hilang oleh laki-laki yang Bagus tidak tau siapa. Saat berada dipelukannya, istrinya itu bukanlah seorang gadis yang masih perawan.
Merasa dibohongi, keluarga Bagus menggugat cerai Rani tanpa membicarakannya terlebih dulu dengan keluarga Rani. Mendengar hal yang tidak adil ini, Rani sempat di sidang oleh keluarganya. Dan pengakuan hebat terlontar dari bibir mungilnya.
Rani mengakui bahwa ia sudah tidak perawan ketika ia duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu Rani memang benar-benar terhasut oleh pergaulan bebas karena kedua orang tua dan kakaknya tinggal di Jogja yang mengharuskan ia sekolah di Jakarta.
Amarah besar terlukis jelas di wajah sang ayah. Bagaimana tidak, putrinya yang selalu memberi kesan baik di depan keluarga, rupanya menyimpan hal yang memalukan untuk keluarganya. Sementara sang ibu tak dapat menahan air matanya dan ia sudah beberapa kali pingsan mendengar skandal yang harus dihadapi oleh keluarganya.
Rasa tidak percaya, terpancar di wajah sang Kakak. Rani terkenal anak yang pintar dengan perilaku yang sebenarnya baik-baik saja. Jangankan untuk berbuat seperti itu, untuk berbohong kepada orang tua dalam hal baikpun ia tidak berani. Tapi, kenapa adiknya dapat jatuh kedalam lubang kehancuran seperti ini?
Karena hal memalukan ini, Rani diusir dari rumahnya. Sang ayah tak mampu jika harus memandang wajah anaknya yang bisa membohongi kedua orang tuanya dalam jangka waktu yang cukup lama itu.
"Ayah, Rani mohon Ayah, Rani minta maaf. Rani juga sudah meninggalkan pergaulan bebas itu ketika Rani kuliah, Ayah. Rani sudah berubah! Rani mohon maafkan Rani, Ayah."
"Jangan pernah panggil aku dengan kata ayah lagi. Aku malu mempunyai anak yang mencoreng muka ayahnya sendiri dengan dosa. Mulai detik ini Rani yang aku kenal itu sudah MATI!!!"
Brraakk
Dentuman keras pintu rumah Rani, terhempas di depan wajahnya. Tangisnya pecah. Isaknya menjadi-jadi. Sang ibupun tak dapat berbuat apa-apa lagi. Kakinya lemah, seolah tak mampu menopang tubuhnya lagi.
***
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tanpa terasa, Rani sudah sebulan menjanda dan tidak kembali ke rumahnya.
Sang ibu duduk di tepian tempat tidur sembari menatap nanar foto Rani. Hanya itu yang bisa mengobati rindunya terhadap Rani. Ibu mana yang tahan jika harus berpisah dengan anaknya tanpa kabar dan berita. Ibu mana yang tidak gila ketika anak kandungnya sendiri keluar dari rumah dan menjadi orang asing begitu saja karena ulahnya sendiri.
Mata sendu itu kembali menitikkan air mata. Air mata yang terus jatuh semenjak Rani diusir dari rumahnya sendiri. Batinnya terasa terkoyak setiap kali silued perkelahian itu tereplay di otaknya.
Hadad, putra pertamanya, datang menghampirinya dengan sepiring nasi. Bobot tubuh ibunya berkurang karena kejadian ini.
"Bu, ibu makan dulu yaa. Ibu belum ada makan, loh. Biar Hadad suapin ya, Bu."
"Ibu nggak ada nafsu makan, Dad. Ibu kepikiran adekmu terus."
"Bu, Rani itu udah besar. Dia bisa mengurus dirinya sendiri, Bu. Biarkan dia di luar dulu sampai hati Ayah luluh lagi, Bu."
Sang Ibu bergeming. Dari sudut matanya, kembali setitik embun siratan luka hatinya membasahi pipi dengan beberapa kerutan di sana. Hadad semakin iba melihat sang Ibu meratap rindu terhadap adiknya.
"Sekarang Ibu makan dulu ya. Biar kalau Rani kesini, Ibu tetap dalam keadaan sehat."
Hadad mencoba sekali lagi membujuk Ibunya. Beruntung sang Ibu mau membuka mulutnya untuk memasukkan beberapa sendok nasi ke mulutnya.
***
Rani lebih memilih mengasingkan dirinya kesebuah desa di Bandung. Desa tersebut sudah cukup maju. Rani mengontrak sebuah rumah petak dengan harga yang cukup terjangkau. Ia harus memulai hidupnya dari awal. Sendiri. Tanpa suami, ayah, ibu, atau abangnya.
Ironi. Rani harus diceraikan oleh suaminya karena keperawanan yang telah hilang. Dicampakan oleh kedua orang tuanya dan disisihkan oleh keluarga besarnya. Jauh berbeda dengan perkiraannya dulu. Di mana suatu keluarga tidak akan mempermasalahkan sebuah keperawanan. Dan ia pikir pasangannya akan mengerti. Ternyata tidak. Perkiraannya salah besar. Kenikmatan yang dulu ia rasakan benar-benar menjadi boomerang kehancuran untuknya.
Itu mungkin cerita lama. Namun, bekas dan sesal itu akan tetap ada. Kesucian seorang wanita layaknya kain putih, yang apabila sudah ternodai oleh air keruh, kain tersebut tidak akan bisa bersih seperti semula sekalipun dibersihkan di air bening. Begitulah perumpaan yang tepat.
Kini Rani hanya dapat berserah. Menjadi janda seumur hidup atau mendapatkan suami yang mau menerima ia apa adanya.
Rani menjadi sebuah penjaga toko di sebuah toko baju milik orang Padang. Beruntung keluarga orang Padang tersebut memiliki pribadi yang baik. Rani dapat merasakan hadirnya keluarga baru jika berada di tengah-tengah keluarga kecil bosnya.
Waktu terus berjalan. Rani sepertinya betah menjadi seorang pramuniaga di toko pakaian itu. Gajinya juga lumayan. Dan yang terpenting baginya adalah keramahan keluarga bosnya.
Di sebuah kesempatan, Rani bertemu oleh seorang pelanggan bernama Hanafi. Seorang guru agama di salah satu SMA di desa itu. Saat itu Hanafi mencari sebuah pakaian bayi dan kebetulan Ranilah yang melayaninya.
Diakui Hanafi, bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Rani. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, Hanan-panggilan laki-laki itu- bisa merasakan getaran hebat dalam hatinya ketika melihat wajah Rani dengan lembutnya melayaninya sebagai pembeli.
Tak heran, Hanan jadi suka pergi berbelanja di toko tempat Rani bekerja. Kebetulan ia suka menyantuni anak yatim yang tengah membutuhkan pakaian layak. Karena ia hanya berdua dengan sang Ibu, Hanan menyisihkan uangnya untuk membelikan baju baru yang akan ia berikan pada anak yatim itu.
Singkat cerita. Rani merespon sedikit demi sedikit perasaan Hanan. Jujur saja, Rani memiliki trauma terhadap mencintai seseorang. Namun entah mengapa, ketika bersama Hanafi rasa trauma itu perlahan terkikis.
Hanan merupakan calon imam yang baik menurut Rani. Sholatnya yang tidak pernah dan beberapa syariat islam yang selalu ia berikan ke Rani.
"Rani..." panggil Hanan.
"Iya, Han."
"Mau sampai kapan menjalani hubungan tanpa status? Sejujurnya kita tidak boleh berjalan berdua seperti ini. Harus ada orang lain di sekitar kita untuk menjaga perzinahan atau fitnah yang terjadi, Ran."
Rani diam. Pikirannya kini berkecamuk. Hanafi memang pria yang baik. Dewasa, dan bisa dikatakan cukup mapan. Hanya saja, kegagalan di masa lalu membuat ia harus berhati-hati mengambil keputusan. Terlebih lagi, Rani adalah seorang janda.
"Jika kamu butuh waktu, tidak apa-apa. Tapi, biarkan aku bertemu dengan orang tuamu. Bagaimana?"
Orang tua? Pernyataan Hanafi membuatnya semakin bingung. Bagaimana bisa ia menemui orang tua Rani, sementara, sang ayah saja belum mau menerima dirinya.
"Kenapa diam, Ran?"
Hanafi memang belum mengetahui bagaimana keadaan keluarga Rani sesungguhnya. Yang Hanafi tau, Rani adalah seorang janda muda yang baru bercerai sebulan yang lalu. Ya, mungkin ini saatnya Rani harus menceritakan semuanya pada Hanafi.
"Han, bawa aku ke danau. Ada yang harus aku ceritakan padamu."
"Baiklah."
Jantungnya kink berdetak tak beraturan. Otaknya mulai berpikir bagaimana kalimat yang tepat untuk menjelaskan keadaanya pada Hanafi.
Hanafi memarkirkan motornya di tempat khusus. Rani berjalan lebih dulu meninggalkan Hanan yang masih memarkirkan motornya. Menatap hamparan danau di bawah pepohonan rindang. Angin bertiup syahdu. Matahari sore itupun tidak begitu terik.
"Ada apa, Ran?" Tanya Hanan yang kini berdiri tepat di sampingnya.
Rani menarik nafas dalam-dalam. Membiarkan oksigen masuk di rongga paru-parunya. Dan memberikan sedikit ketenangan untuknya.
"Sebenarnya..." Rani menatap wajah laki-laki yang ia sayangi itu. "Aku bercerai dengan suamiku satu bulan yang lalu. Alasan suamiku menceraikanku adalah ketidak perawanan aku di malam pertama kami. Aku telah memberikan perawanku kepada laki-laki yang menjadi pacarku di waktu SMA. Bukan suamiku."
"Lantas?"
"Aku bukanlah wanita baik-baik, Han. Bahkan karena rendahnya akhlakku, aku diusir dari rumah, aku tidak lagi dianggap sebagai anak oleh mereka. Aku adalah wanita hina, Han. Dan kamu tidak pantas mendapatkan istri sepertiku."
Air mata itu kembali menetes di sudut matanya. Air mata yang biasanya mengalir hanya pada saat ia berdoa atau akan tertidur kala malam. Air mata yang kini jatuh di depan laki-laki yang baru ia kenal. Laki-laki yang mencintainya dan serius dengannya.
"Rani, masa lalu adalah cerita lampau yang tidak akan pernah ada di masa depan. Masa lalu adalah sebuah perjalanan layaknya jalan setapak menuju masa depan yang lebih baik. Aku tidak perduli bagaimana masa lalumu. Bagaimana statusmu. Bahkan keluargaku tidak mempermasalahkan itu. Aku akan menerimamu apa adanya, Rani. Masa lalumu biarlah menjadi masa lalu yang pahit untuk dikenang. Jadikan aku masa depanmu yang akan menuliskan cerita indah untukmu."
Mata Hanafi menunjukkan sebuah ketulusan. Binar matanya meneduhkan hati Rani yang saat itu tengah kalut. Cacian ayahnya, hinaan yang diberikan oleh ibu mertuanya, terputas kembali di otaknya. Dan saat melihat ketulusan yang terpancar di mata Hanafi menenangkan semuanya.
"Masalah orang tuamu. Kita akan temui bersama. Semarah-marahnya orang tua, tetap akan ada rasa iba dan maaf untuk anaknya. Karena seorang anak merupakan darah daging kedua orang tuanya. Tidak akan ada istilah mantan anak, bukan?"
Tangan lembut Hanafi menyentuh pipi yang telah basah oleh air mata itu. Sekali lagi, Rani merasakan kehangatan yang tulus. Hanafi benar. Mungkin kehadirannya bersama Hanafi ke rumah, kemudian meminta maaf, ayahnya akan memaafkannya dan memperbaiki segalanya.
*** Rani dan Hanafi pamit untuk pergi kembali ke Jakarta. Tekad Rani sudah bulat untuk menemui Ayahnya. Ia tidak perduli bagaimana sang Ayah merespon kedatangannya. Toh, di sampingnya kini ada Hanafi. Laki-laki yang datang saat sepi melandanya. Laki-laki yang datang untuk menguatkannya. Laki-laki yang selalu ada dalam kiasan doa di sepertiga malamnya. Ya, Hanafi adalah calon imam yang dikirim Tuhan untuknya. Semoga Allah meridhoi laki-laki ini, seiring dengan ridho orang tuanya.
Rani dan Hanafi tiba dirumah sederhana milik orang tua Rani. Rumah sederhana yang tampak sepi dari luar. Apakah tidak ada orang di rumah?
"Assallamu'alaikum..." Suara salam itu terdengar parau. Rani menahan tangis di sanubarinya. Ia merasa ragu untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri.
"Wa'allaikumsalam..." Wanita cantik berusia 30 tahun keluar dari balik pintu utama. "Rani..." serunya
"Mbak Maya..."
Wanita bernama Maya yang tidak lain adalah istri dari Hadad menjadi orang pertama yang menyaksikan kedatangan Rani.
Suasana haru menjadi latar sore itu. Hanafi hanya dapat berdiri dari sisi lain melihat dua wanita di hadapannya tengah melepas rindu.
"Apa kabar kamu, Dek."
"Baik, Mbak. Ibu, Ayah, dan Mas Hadad ada?"
"Ada. Ibu ada. Tapi, Mas Hadad dan Ayah sedang pergi. Ayo, masuk, Dek."
Rani tersenyum pada Hanafi. Pertanda Rani menyuruhnya untuk masuk. Hanafi membalas senyuman itu. Ia menarik nafasnya panjang, sembari melangkah menuju rumah sederhana yang akan sering ia kunjungi nantinya.
Mbak Maya menuntunnya menuju kamar kedua orang tuanya. Semenjak kepergian Rani dari rumah itu, Ibunya memilih untuk mengurung diri di kamar. Rasanya, berinteraksi dengan orang rumah hanya akan mengingatkan ia pada Rani.
Rani melangkah perlahan memasuki kamar orang tuanya. Ia melihat sang Ibu tengah duduk di tepian tempat tidur dengan menghadap jendela. Sebulan bukanlah waktu yang sebentar jika harus dihabiskan di dalam kamar tua itu. Hanya menatap matahari yang berjalan ke peristirahatannya kala senja sehingga berganti malam, sembari menyairkan doa yang tersirat rindu. Ya, itulah yang dilakukan ibunya kala Rani harus meninggalkan rumah yang sudah ada jauh sebelum Rani lahir.
"Ibu..." suara parau yang kembali memecah keheningan sore itu.
Ujung mata Rani kembali berair. Menetes perlahan membasahi pipinya. Sang ibu bergeming.
"Ibu..." suara parau itu terus menerus terdengar dan semakin jelas. Hanya saja, Ibunya belum mau memalingkan wajahnya ke sumber suara.
"Rani pulang, Bu..."
Perlahan, wajah tua itu mulai berpaling. Ia mulai mencari sumber suara yang menjadi perhatian gendang telinganya kini.
Rani berada tepat di depan wajahnya. Ya, Rani. Putrinya yang meninggalkan ia sebulan yang lalu. Putrinya yang menjadi asing hanya dalam hitungan detik karena dosa yang ia lakukan. Rani bersempuh di bawah kaki sang Ibu. Rindu itu pecah seiring tangis yang meraung di sudut kamar tua. Tiada yang lebih hebat dari rindu Ibu dan Putrinya.
Sang Ibu memeluk putrinya dengan begitu erat. Rasanya, apapun yang terjadi, ia tidak akan mau melepaskan putrinya begitu saja. Tidak akan lagi ia biarkan putrinya pergi meninggalkan ia dalam gejolak rindu yang menyiksa.
Mbak Maya dan Hanafi memutuskan untuk membiarkan kedua anak dan ibu itu saling melepas rindu. Mbak Maya membuatkan secangkir teh hangat untuk Hanafi yang sedang dudum manis di ruang tamu. Pandangan mata Hanafi beredar ke seluruh sudut rumah. Terdapat beberapa figura yang memperlihatkan betapa bahagianya keluarga ini. Hanya saja, ia tidak melihat foto Rani di pajang di ruangan itu.
"Foto Rani udah dibuang sama Ayah. Sepertinya, Ayah benar-benar kecewa dan marah dengan, Rani." Perjelas Mbak Maya sembari meletakkan secangkir teh hangat dan kue kering ke atas meja kaca.
"Terima kasih, Mbak. Mbak seperti paham apa yang saya pikirkan."
"Kebanyakan tamu mempertanyakan hal tersebut. Selama sebulan kami harus menjawab dengan kalimat yang sama."
Hanafi mengangguk paham. "Oiya, Mbak. Saya Hanafi. Teman Rani dari Bandung."
"Jadi selama ini Rani di Bandung? Apa selama di sana Rani baik-baik saja. Ia merepotkan kamu?"
"Apa selama ini Rani tidak memberi kabar keluarga di sini, Mbak?"
Mbak Maya hanya menggeleng tegas. "Rani paham betul Ayahnya seperti apa. Mungkin bagaimanapun alasannya, Ayahnya tidak akan memperbolehkan kami untuk berbicara dengan Rani."
Tak lama Rani keluar bersama sang Ibu. Rindu mereka telah terbayar lunas. Mereka juga sudah mulai tenang. Dan bermaksud ikut menimbrung di ruang tamu.
"Inikah laki-laki itu, Rani?" Tanya sang ibu.
"Iya, Bu. Namanya Hanafi. Rencananya kami akan segera menikah. Dan memohon restu kepada Ibu, Ayah, Mas Hadad, dan Mbak Maya. Sekaligus memperbaiki hubungan kita, Bu."
Sang Ibu paham. Ia menyuruh anaknya untuk sabar menunggu sang pulang. Terdengar suara motor bebek yang biasa dipakai oleh Ayahnya. Sang Ayah langsung memasuki rumah bersama Hadad dan terkejut kala melihat anak yang telah mengecawakannya hadir di hadapannya kini.
"Rani!"
"Assalamua'alaikum, Ayah." Rani meraih tangan kanan Ayahnya. Namun sang ayah menepisnya begitu saja.
"Untuk apa kau kemari lagi?! Belum puas kau mempermalukan ayah dan keluarga ini?! Sudah sangat nyaman rumah ini tanpa kehadiran anak pembuat malu sepertimu!" Amarah sang memuncak begitu saja.
Tangis Rani kembali pecah. Ketakutannya terealisasi dengan begitu cepat. Hadad selaku anak tertua hanya dapat menahan emosi sang Ayah dengan membawanya menuju kamar utama.
Disusul oleh sang Ibu yang berharap dapat meredam amarah sang ayah.
"Yah, sudahlah. Jangan begitu larut dalam kebencian. Bagaimanapun, Rani anak kita. Rani kesini untuk meminta maaf dan mengenalkan laki-laki yang tulus mencintai dia apadanya, Yah."
"Laki-laki mana yang mau menerima wanita murah seperti dia itu, Bu!"
"Yah, Ibu mohon. Tolong maafkan Rani. Hilangkan egomu. Selama lebih 50 tahun, Ibu percaya sama Ayah, bahwa Ayah adalah kepala keluarga yang baik dan bijaksana. Tolong pikirkan sekali lagi, Yah. Ini juga tidak sepenuhnya kesalahan Rani. Kesalahan kita juga selaku orang tua tidak memperhatikan masa mudanya. Yah, Ibu mohon. Beri Rani kesempatan sekali lagi. Dia itu anak kandung kita. Darag daging kita. Dan munafik jika Ayah tidak rindu oleh putri yang amat ayah sayangi dulu. Tepikan egoismu, Yah."
Bujuk sang Ibu. Sesungguhnya, jauh di batin Ayah terselip rasa rindu dan juga penyesalan karena telah membiarkan putrinya hidup sendiri di luar sana. Sebagai seorang ayah, ia juga sudah gagal dalam membina keluarganya sendiri. Ya, mungkin memaafkan dan menerima putrinya kembali adalah cara untuk memulai semuanya dari awal.
Sang ayah luluh. Ia membimbing tubuh istrinya keluar menuju ruang tamu. Di ruang tamu, ia merengkub putri satu-satunya sembari menitikkan air mata. Dalam dekapan sang ayah pun, Rani menangis. Ia rindu aroma tubuh ayahnya. Ia rindu kehangatan dekap peluk sang ayah.
Inilah akhir dari ironi kehidupan. Tak selamanya yang kita pikirkan akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Berdoa dan berserah diri kepada Tuhan adalah sebagian kendali kehidupan. Dan tetap menjaga diri menjadi pribadi yang elok dipandang keluarga maupun masyarakat.
End
Kamis, 18 Februari 2016
Peri Kecil
"remas tanganku dan bawa daku pergi bersamamu.."
Langkah kakinya
berlarian dengan lugu melewati rerumputan halus di padang yang indah. Gaun pink
dengan sayap kecil di belakang, mempercantik tubuh mungilnya. Ia berputar
sembari tertawa riang bermain dengan sang angin. Wajah nya yang bersih, rambut
hitam panjangnya yang terurai sempurna, menambah keelokkan pada dirinya.
Senyumnya. Astaga. Aku meleleh. Aku hanyut dalam senyumnya yang hangat.
Tangan mungilnya, menarik tanganku. Membawaku menari lucu
bersamanya. Hamparan rumput hijau bertemankan suasana sore yang indah.
Membuatku nyaman dan enggan beranjak pergi meninggalkan gadis mungil ini. Ia
begitu bahagia. Membiarkan kaki kecilnya itu bermain dengan rumput-rumput
hijau.
Aku berjalan menjauh darinya. Kembali mengamatinya dari
sisi yang aku suka. Melihat gaun pinknya berayun kesana kemari mengikuti
gerakkannya.
“Peri Kecil…” Begitu aku menjulukinya.
Ia hanya dapat aku temukan saat aku terlelap dalam tidur
nyenyakku. Aku tidak pernah tau siapa namanya. Yang aku tau, karenanya aku
selalu ingin di tempat yang terlihat seperti surga. Bermain bersamanya.
Melewati hari-hariku bersamanya.
“Damar…” Panggil Bundaku.
Peri kecil itu menghentikan langkahnya. Ia menatapku.
Menatapku dengan rasa takut. Tak lama, peri kecil itu berlari dan menghilang.
Aku pun hanya melihat cahaya yang menyilaukan mataku. Aku
membuka mataku saat aku yakin tidak ada lagi cahaya menyilaukan itu. Yang ada
hanya beberapa peralatan rumah sakit dan selang infuse yang melekat di
tanganku.
“Kamu makan dulu, ya…” ucap Ibuku.
Ahh, sial. Aku kembali ke sebuah tempat yang tidak aku
suka. Neraka. Tanpa ada peri kecil. Yang ada hanya iblis-iblis jahat berbentuk
kapsul dan tablet.
Aku memasang wajah cemberut di depan Ibuku. Ia hanya
mengelus kepalaku. Kepalaku yang dulu sempat dihiasi oleh rambut hitam yang
harum dan bersih. Sekarang, rambutku perlahan gugur. Dan aku hanya laki-laki
botak yang terbaring lemah di rumah sakit.
“Sampai kapan aku di sini, Bunda?” Tanyaku sebelum aku
mengunyah makanan hambar khas rumah sakit.
“Sampai kau sembuh.”
“Kapan? Aku bahkan tidak merasakan ada tanda-tanda aku
akan sembuh, Bunda. Apa aku akan keluar dari rumah sakit ini setelah peri kecil
memanggilku pergi?”
Bunda menatapku iba. Ia terus menyuapiku dengan bubur
putih yang didampingi sayuran rebus. Sungguh. Makanan ini adalah makanan
terburuk yang selalu aku makan. Tak lama, aku lihat air bening yang jatuh dari
ujung mata Bunda. Tuhan, harus sampai kapan aku melihat Bunda menangis seperti
ini? Aku hanya anak berusia sepuluh tahun yang tidak mengerti apa-apa. Aku
bingung harus bagaimana menghadapi wanita yang sedang menangis. Dengan polos,
aku menghapus air mata Bunda. Dengan tanganku yang ringkih dan sedikit gemetar.
Bunda memelukku. Dan aku hanya terdiam tak mengerti
apa-apa. Yang aku tau, Bunda hanya terus menangis saat aku merintih kesakitan,
yang aku tau tubuhku semakin lama semakin mengecil, rambutku semakin habis, dan
tubuhku harus terus menerus merasakan obat yang begitu pahit dan menyakitkan.
Aku tidak tau apa yang salah dengan tubuhku bahkan aku juga tidak tau penyakit
apa yang sebenarnya aku derita.
“Bunda, jangan terus-terusan nangis dong. Damar ‘kan
nggak suka liat Bunda nangis. Damar ada buat salah ya sama Bunda?”
“Nggak, sayang. Kamu nggak ada salah. Berjanjilah untuk
tidak memilih peri kecilmu itu ya, Nak. Sesuka apapun kamu dengan peri kecil
yang kamu temui itu, jangan pernah duakan cinta Bunda.”
“Bunda, Damar ini masih kecil. Damar nggak mau pacaran
sama peri kecil, meskipun Damar suka dengan dia.” Jawabku malu-malu.
Dan Bundaku sedikit tertawa. Meski aku tau, air matanya
mengalir semakin banyak.
***
“Damar…”
Peri kecil itu datang lagi. Dengan lugunya, ia berjalan
menghampiriku. Ia tersenyum indah di hadapanku. Rambut hitamnya berliuk manja
tertiup sang angin seiring dengan gaun pink khasnya. Aku seolah jatuh dalam
pesonanya. Tapi, janjiku terhadap Bunda. Aku seolah hampir mengabaikannya.
“Ikutlah denganku, Damar…” Ujarnya dengan manis.
Ia meraih pergelangan tanganku. Dengan lembut aku mencoba
menolak rengkuhan tangannya. Dan aku menggeleng dengan pelan.
“Kenapa? Bukankah kau lebih menyukai bermain di sini
bersamaku?”
“Aku sudah janji dengan Bunda.”
“Bundamu hanya akan terus menangis jika kamu selalu
merintih kesakitan di sampingnya. Jika kamu ikut aku, kamu tidak akan sakit lagi.
Dan Bunda pasti bahagia. Kamu mau lihat Bunda terus bahagia, kan?”
Aku diam. Peri kecil itu berkata benar. Toh, Bunda hanya
berpura-pura tertawa di sampingku. Sesungguhnya ia hanya menangisiku. Menangisi
badan ringkihku. Aku juga lebih bahagia di sini. Bermain bersama peri kecil
yang aku suka.
Tangan mungil peri kecil itu terjulur ke arahku. Dengan
ramah ia memintaku untuk menggapai tangannya. Aku menarik nafasku panjang. Dan
ku raih pergelangan tangan peri kecil itu. Berlari mengikuti langkah kecilnya.
Bermain di padang rumput yang luas. Dan mulai berbahagia meski tidak di samping
Bunda.
***
"Pergilah jika kau merasa bahagia, Damar. Bunda juga
tidak akan tega melihatmu hidup bersama obat-obatan yang hanya membuatmu sakit.
Tenanglah di Surga-Nya, Nak.”
Langganan:
Postingan (Atom)

