Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerita patah hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerita patah hati. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Agustus 2017
Sepertiga Senja
"Berhenti untuk terus mengusikku, Nada!" Cecar seorang pria yang masih terpaku menatap sang jingga.
"Kau pikir, menyatukan kembali kepingan hati yang hancur itu semudah kau mengatakan 'maaf'?" Lanjutnya.
Sang jingga merayap perlahan. Mengadu lelahnya pada sang bulan. Menyerahkan sesaknya senja itu pada langit malam yang temaram.
"Kau tahu, setelah kepergianmu berapa lama aku harus menyusun hidupku kembali? Apa kau tahu betapa tersiksanya aku di setiap senja aku hanya menemukan serpihan kisah masa lalu tentangmu?! Apa kau tahu betapa bencinya aku yang harus berusaha melupakanmu di sepertiga senja?!"
Embun itu pecah. Menjadi bulir-bulir bening yang merembet dari sudut mata laki-laki bernama Angga. Sang jingga semakin meredup. Cahayanya berpadu dengan kelabu yang menyisakan sebuah silued kenangan tabu. Kenangan manis yang terasa begitu menyakitkan.
"Pergi, Nada! Jangan terus mengganggu kehidupanku! Jangan terus mengusikku dengan kata maafmu!" Untuk kesekian kalinya, Angga menangis dalam pelukan senjanya.
Senjanya yang terus berharap untuk kembali. Meski kini senja itu sudah mati.
Label:
cerpen sedih,
contoh fiksi mini,
fiksimini,
kumpulan cerita cerpen sedih,
kumpulan cerita patah hati,
kumpulan cerpen,
sad story,
sepertiga senja,
wattpad
Sabtu, 02 Januari 2016
Sayap yang Patah
Gadis itu tersenyum sembari meletakkan secangkir Coffee latte favoritenya di atas meja. Matanya berkaca. Seolah akan ada setitik embun hangat yang membasahi pipinya. Nosya menarik nafasnya perlahan. Seolah suasana sore itu terasa sesak. Di hadapannya, seorang laki-laki menatap matanya penuh arti. Iba lebih tepatnya.
"Jangan pernah hadir di hadapanku hanya untuk menceritakan laki-laki itu." Ucapnya tegas.
Kini matanya menyorot kebencian. Kebencian yang seolah membeku dan tak kan mencair meski kehangatan air mata menyelimuti kebenciannya.
"Aku sudah terlalu muak. Perempuan bodoh yang rela menunggu dan menghabiskan sebagian waktunya hanya untuk dicampakkan. Bahkan binatang sekalipun, akan menyerah ketika penantiannya tidak dihargai." Kalimat lantang itu keluar seiring dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.
Laki-laki di hadapannya hanya mampu diam saat melihat gadis manis berkaca mata itu menangis. Isaknya terdengar semakin keras. Seluruh orang di cafe itu memandang mereka dengan tatapan heran. Nosya tak perduli. Air mata yang sudah tidak sanggup ia bendung beserta sesak hati yang menyiksa membuat suasana hatinya rumit.
"Tapi, sekarang dia mencari mu. Nosya." Laki-laki itu mulai berbicara meski ragu.
"Untuk apa?! Setelah ia mematahkan sayapku dan membiarkan aku stuck hanya untuk menantinya yang ternyata mempermainkan aku, dan sekarang ia hadir di saat ada seseorang yang mengobati sayap patahku. Mengizinkan aku terbang dan mencari arti akan kata 'tulus' yang sebenarnya. Jangan pernah sebut namanya di hadapanku."
"Dia ayahmu, Sya. Ayah kandungmu." Jelas laki-laki yang ternyata adalah paman gadis itu.
"Perduli apa?! Dia mencampakkan aku dan Ibuku. Aku yakin, dulu ia tidak menganggapku sebagai anaknya dan Ibuku sebagai istrinya. Lantas, buat apa aku masih mengharapkannya sebagai seorang ayah?! Bahkan ketika ia mengemis kembali kepadaku dan Ibuku, aku tidak akan pernah menerimannya kembali..."
Nosya beranjak dari tempat duduknya. Menghapus air matanya dan menatap lekat laki-laki di hadapannya, kemudian pergi begitu saja.
END
"Jangan pernah hadir di hadapanku hanya untuk menceritakan laki-laki itu." Ucapnya tegas.
Kini matanya menyorot kebencian. Kebencian yang seolah membeku dan tak kan mencair meski kehangatan air mata menyelimuti kebenciannya.
"Aku sudah terlalu muak. Perempuan bodoh yang rela menunggu dan menghabiskan sebagian waktunya hanya untuk dicampakkan. Bahkan binatang sekalipun, akan menyerah ketika penantiannya tidak dihargai." Kalimat lantang itu keluar seiring dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.
Laki-laki di hadapannya hanya mampu diam saat melihat gadis manis berkaca mata itu menangis. Isaknya terdengar semakin keras. Seluruh orang di cafe itu memandang mereka dengan tatapan heran. Nosya tak perduli. Air mata yang sudah tidak sanggup ia bendung beserta sesak hati yang menyiksa membuat suasana hatinya rumit.
"Tapi, sekarang dia mencari mu. Nosya." Laki-laki itu mulai berbicara meski ragu.
"Untuk apa?! Setelah ia mematahkan sayapku dan membiarkan aku stuck hanya untuk menantinya yang ternyata mempermainkan aku, dan sekarang ia hadir di saat ada seseorang yang mengobati sayap patahku. Mengizinkan aku terbang dan mencari arti akan kata 'tulus' yang sebenarnya. Jangan pernah sebut namanya di hadapanku."
"Dia ayahmu, Sya. Ayah kandungmu." Jelas laki-laki yang ternyata adalah paman gadis itu.
"Perduli apa?! Dia mencampakkan aku dan Ibuku. Aku yakin, dulu ia tidak menganggapku sebagai anaknya dan Ibuku sebagai istrinya. Lantas, buat apa aku masih mengharapkannya sebagai seorang ayah?! Bahkan ketika ia mengemis kembali kepadaku dan Ibuku, aku tidak akan pernah menerimannya kembali..."
Nosya beranjak dari tempat duduknya. Menghapus air matanya dan menatap lekat laki-laki di hadapannya, kemudian pergi begitu saja.
END
Senin, 21 Desember 2015
Rasa yang Tak Sampai
Say hai, buat para pembaca LOVARIES. Maaf bulan November nggak bisa nge-post satu cerita pun. Penulis amatir ini lagi sibuk-sibuknya dengan kegiatan ngampus. Ngampus itu tidak seindah sebagaimana mestinya Sis, Bro. *hihihi* oke skip. Kali ini, Ayu akan berbagi cerita tentang temen ayu yang lumayan sedih. Dan di sini ayu gunakan Nosya sebagai pemeran utama. Oke, selamat membaca....
Tags: cerita sedih, kumpulan cerita sedih, kumpulan cerpen sedih, kumpulan cerpen patah hati, kumpulan cerpen nosyalovaries.blogspot.com
Awalnya Nosya tak percaya, jika rasa itu benar-benar ada. Ya, dengan laki-laki yang semula ia kira hanya sekedar rekan kampus. Laki-laki yang tanpa sengaja dekat dengannya karena sebuah program kerja suatu UKM di kampus. Dari pertemuan itu, mereka saling bertukar pikiran, bahkan cukup dekat untuk status rekan kampus.
Namanya Deka. Laki-laki berpostur tinggi, putih, dan memiliki wajah cukup manis ini berhasil membuat hati Nosya gundah. Pernah mendengar "rasa suka ada karena biasa". Ya, Nosya mulai terbiasa dengan hadirnya Deka di kehidupannya. Nosya mulai terbiasa saat lelucon yang dibuat Deka mampu buatnya tertawa lepas. Nosya mulai terbiasa saat Deka adalah mood booster nya. Siapa yang akan menyangka perasaan itu akan hadir? Nosya sendiri pun tak berniat untuk menghadirkan rasa itu. Karena baginya, teman adalah teman.
Kamis, 29 Oktober 2015
Ingkar
Postingan terakhir di bulan Oktober. Ini cerita fiktif yang ada karena saat aku merasa galau. Hahah. Yang bilang ini curahan hati sang penulis. Itu bohong. Ini benar-benar cuman fiktif. Oke, enjoyed.
''Dek, dia lulus.'' getar handphoneku memecahkan
konsentrasi belajarku. Ku lihat layar handphoneku tertera pesan aplikasi LINE
dari seseorang yang ku kenal.
Tanganku meraih handphoneku dan membalas pesan
itu. Aku hanya membalas dengan emot senyum.
''Hanya itu?'' Balasan darinya yang hanya
berujung ku lihat tanpa berniat membalasnya kemudian.
Pikiranku menerawang jauh. Tepat 1 bulan
seseorang yang aku suka pergi dari kehidupanku untuk meraih mimpinya. Setelah
lulus SMA ia memutuskan untuk mengejar mimpinya menjadi seorang pembuat film
yang bisa melanjutkan studinya di Singapore. Dan dia berhasil.
Laki-laki itu sempat menghubungiku dua bulan
sebelum kelulusan. Kami saling berinteraksi melalui media sosial. Kami saling
sharing. Menceritakan banyak hal yang bahkan terkadang tanpa sengaja kita
temui. Jujur, beberapa hari saja dekat dengannya. Aku merasa nyaman. Karena
dulu, aku sempat tertarik dengannya. Namun, aku mengerti. Apalah arti aku
dikehidupannya yang mewah, terkenal, dan banyak digandrungi wanita cantik.
Aku hanya adik kelas biasa, yang mengagumi abang
kelas dari jauh. Sampai akhirnya, mimpi menjadi nyata. Awal tak percaya saat ku
lihat pesan singkat masuk di akun WA milikku. Ya, sang malam yang selalu ku
rindukan.
Terus menerus chating. Sampai akhirnya kami
membicarakan hal yang serius. Laki-laki itu menginginkanku untuk menjadi
kekasihnya. Hati dan logikaku tak dapat bersatu. Hatiku berkata 'ya' sementara
otakku berkata 'tidak'.
Alasanku jelas. Sebentar lagi ia akan lulus SMA.
Dan ia akan berjuang test untuk dapat melanjutkan studi di Singapore. Dan
apabila ia lulus, kami akan menjalanin hubungan jarak jauh. Ku maklumi jika
kami hanya berbeda kota atau pulau. Masalahnya adalah kami berbeda negara.
Bagaimana aku bisa bertahan? Ralat. Bagaimana kami bisa bertahan? Aku tau
bagaimana latar belakang Mario -nama laki-laki itu-. Dia adalah laki-laki
tampan yang banyak diidam-idamkan wanita. Hatiku menyimpan ketakutan jika suatu
saat hubungan kami hancur karena orang ketiga.
Aku menghela nafas panjang. Jika ku ingat saat
itu, ingin sekali ku ulang dan berkata ‘iya’. Karena hingga detik ini, ada hal
yang mengganjal setiap kali ku teringat tentang itu. Ya, hatiku memberontak
pertanda ku menyesal. Entahlah…
***
“Nggak mau meninggalkan tanda tangan di bajuku?”
Ujar Mario menepuk pundakku.
Dengan ragu, ku tuliskan tanda tanganku di baju
putih abu-abu miliknya. Lengkap dengan nama panjangku. Aku tersenyum menatap
wajahnya dengan sangat dekat. Senang dan sedih. Ada sesak saat aku tau hari ini
adalah hari terakhir aku melihat senyumnya dan mata indahnya. Entah kami akan
bertemu lagi atau tidak sama sekali. Entah kami akan saling ingat atau tidak. Entah
kami akan saling merindu atau tidak.
“Kita jalanin semua seperti ini ya, Cha. Jika
kamu mampu, kamu tunggu aku. Jika tidak, lupakan semua.”
Aku terdiam. Mataku berkaca dan ku tahan dengan
senyuman getir. Jika aku mampu. Apa kau akan ingat dengan janjimu? Apa kau akan
menoleh kepadaku di saat kita bertemu? Apa kau akan sehangat sekarang jika kita
kembali dipertemukan?
***
Mario. Hingga detik ini aku masih mampu
menunggumu. Entah sampai kapan. Namun, ada hal yang mengganjal di tengah
penantianku. Ada banyak pertanyaan yang ingin ku sampaikan kepadamu. Jika aku
mampu menantimu sampai saat kau kembali. Akankah kau ingat akan janji dulu? Ini
pertanyaan yang inginku tanyakan padamu, Rio.
END
Langganan:
Postingan (Atom)



