Tampilkan postingan dengan label wattpad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wattpad. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Agustus 2017

Sepertiga Senja



"Berhenti untuk terus mengusikku, Nada!" Cecar seorang pria yang masih terpaku menatap sang jingga.

"Kau pikir, menyatukan kembali kepingan hati yang hancur itu semudah kau mengatakan 'maaf'?" Lanjutnya.

Sang jingga merayap perlahan. Mengadu lelahnya pada sang bulan. Menyerahkan sesaknya senja itu pada langit malam yang temaram.

"Kau tahu, setelah kepergianmu berapa lama aku harus menyusun hidupku kembali? Apa kau tahu betapa tersiksanya aku di setiap senja aku hanya menemukan serpihan kisah masa lalu tentangmu?! Apa kau tahu betapa bencinya aku yang harus berusaha melupakanmu di sepertiga senja?!"

Embun itu pecah. Menjadi bulir-bulir bening yang merembet dari sudut mata laki-laki bernama Angga. Sang jingga semakin meredup. Cahayanya berpadu dengan kelabu yang menyisakan sebuah silued kenangan tabu. Kenangan manis yang terasa begitu menyakitkan.

"Pergi, Nada! Jangan terus mengganggu kehidupanku! Jangan terus mengusikku dengan kata maafmu!" Untuk kesekian kalinya, Angga menangis dalam pelukan senjanya.

Senjanya yang terus berharap untuk kembali. Meski kini senja itu sudah mati.

Senin, 28 November 2016

Teruntuk Senja

Senja. Nama gadis manis yang menjadi tokoh utama sebuah kisah ketika hati yang semula yakin, mulai goyah. Perawakannya bertubuh mungil, namun berisi. Wajahnya yang manis dengan lesung pipi di kedua sudut pipinya. Teduh saat melihat kerudung yang ia gunakan selalu pas membalut auratnya.

Senja. Ia seorang gadis berdarah minang. Ayah dan Ibunya adalah orang asli Padang. Dengan tatanan agama yang begitu kuat mengakar dan tumbuh dalam jiwanya. Didikan itulah yang kini membawanya menjadi seorang mahasiswi di Perguruan Tinggi Negeri di kotanya dengan jurusan pendidikan bahasa Inggris.

Senja. Ia kini tengah dekat dengan seorang pria bernama Doni. Mas Doni, begitu ia memanggilnya. Seorang guru di salah satu sekolah menengah atas di daerahnya. Namun, hubungan itu belum dapat dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius, lantaran adanya bayangan masa lalu yang membayang di benak Senja.

Di suatu senja, di tepian sungai, Senja dan Doni duduk berdua. Memandang hamparan arus lembut aliran sungai dengan syahdunya angin yang berhembus. Senja menatap nanar jingga penghantar mentari beristirahat di peradaban. Berganti tugas pada sang bulan yang bekerja separuh hati di gelapnya malam.

"Kemarin, Senja sempat mampir ke rumah, Mas..." Suara parau itu memecah keheningan. "Dan Senja melihat, ada Kak Rosa di sana..." Lanjutnya.

Doni masih terdiam. Ia mendesah berat.

"Kenapa tidak memberitahuku, atau sedikit bercerita tentang pertemuan kemarin?" Senja kembali berbicara.

"Mas hanya tidak ingin membicarakannya. Mas menjaga perasaan Senja." Jawab Doni.

"Dia datang untuk meminta Mas kembali, bukan?"

Doni kembali diam.

"Maaf, jika aku lancang mendengar percapakan kalian." Mata indah itu mulai menampakan air bening yang masih bisa ditampung pelupuk matanya.

"Dia memang meminta Mas untuk kembali. Tapi, Mas menolak. Mas sudah punya kamu, Senja." Doni masih tenang menanggapi semua pertanyaan Senja.

"Hubungan kita baru berjalan dua bulan. Lepaskan jika memang ingin. Melupakan sebuah perasaan lama bukan hal mudah, terlebih kalian sudah banyak menghabiskan waktu bersama. Kembalilah, Mas."

Setetes air bening itu akhirnya jatuh. Membasahi pipi lembut sang tokoh utama.

Semenjak hubungan itu ada, Senja menyimpan ragu akan hati pria yang kini ada dihadapannya. Pria itu baru saja dikhianati oleh wanita yang sudah menemaninya selama setahun. Bahkan mereka sudah merencanakan sebuah pernikahan. Tapi, kemudian hancur lantaran orang ketiga yang hadir di antara keduanya. Wanita itu pergi meninggalkan Doni begitu saja.

Dan kini hadir meminta Doni untuk kembali saat Doni sudah bersama Senja.

"Bukankah kedua keluarga kalian sudah setuju? Cerita kalian masih bisa diperbaiki. Kalian tinggal hapus tulisan buruk, kemudian perbaiki lagi." Lanjut Senja.

"Sayangnya, cerita ini bukan tentang menulis sebuah sastra bertema cinta. Yang mudah di hapus, kemudian diketik lagi dengan cerita yang lebih menarik. Ini tentang sebuah perasaan yang sempat hancur oleh seseorang. Kemudian orang itu kembali dan meminta untuk memperbaiki hati yang telah hancur. Tidak semudah itu Senja. Aku menyatukan lagi kepingan hati yang hancur itu sendiri, yang kemudian dibantu oleh Senja yang meredupkan keletihanku."

"Tapi, orang tuaku tidak menginginkan kita menikah, Mas. Pergilah bersama dia yang lebih pasti."

"Aku akan berusaha keras agar kedua orang tuamu, menyetujui kita. Aku akan berusaha. Tapi, aku tidak bisa berusaha sendiri, Senja. Aku butuh Senja yang menguatkanku."

Senja terdiam. Isaknya memecahkan keheningan jingga yang merangkak hitam. Suara adzan maghrib, terdengar perlahan.

"Senja, aku sudah lelah. Lelah dengan semua cerita cinta yang berakhir sama. Yang berakhir menyakitkan. Yang aku butuhkan sekarang adalah rumah untukku beristirahat dengan tenang. Rumah tempatku mengadu senang dan susahku, rumah tempat aku berteduh, dan aku harap rumah itu kamu Senja. Kita berjuang bersama-sama. Patahkan ragumu, dan yakinlah bersamaku."

END